Sabtu, 27 Oktober 2012

3 Perkara

➪ ADA TIGA PERKARA YANG TIDAK AKAN PERNAH KEMBALI...

1. Waktu...
2. Perkataan...
3. Kesempatan...


➪ ADA TIGA PERKARA YANG BISA MENGHANCURKAN KEHIDUPAN KITA...

1. Kemarahan...
2. Kesombongan...
3. Dendam, Iri Hati, Dengki...

➪ ADA TIGA PERKARA YANG TIDAK BOLEH DIHILANGKAN DARI KEHIDUPAN KITA...

1. IMAN
2. Cinta Kasih...
3. Persaudaraan...

Selasa, 23 Oktober 2012

Taubat Sang Pelacur Cantik

Al-Malikah namanya. Perempuan yang sangat cantik di kalangan Bani Israel. Sayang, kecantikan yang dimiliki disalahgunakan olehnya. Al-Malikah sehari-hari berprofesi sebagai seorang pelacur. Karena kecantikannya, Al-Malikah termasuk pelacur berkelas. Bayarannya tinggi. Tarifnya 10 dinar sekali kencan.

Banyak orang yang tergila-gila dengan kecantikan Al-Malikah. Salah satunya adalah seorang pemuda bernama Abid. Sayangnya, Abid bukanlah orang kaya yang memiliki banyak uang sehingga bisa mengajak kencan Al-Malikah.

Namun, karena Abid ingin sekali bisa berkencan dengan Al-Malikah, Abid pun bekerja keras membanting tulang untuk mengumpulkan uang. Setelah sekian lama bekerja, akhirnya Abid bisa mengumpulkan uang sebanyak 1000 dinar. Dengan berbekal uang sebanyak itu, Abid segera menemui pelacur idamannya itu.

"Silakan masuk," kata Al-Malikah menyambut kedatangan Abid. "Langsung masuk ke kamar saja," lanjut Al-Malikah.

Mendengar sapaan lembut itu, Abid segera melangkahkan kakinya menuju ke kamar di mana Al-Malikah berada. Hati Abid berdesir. Hari ini, segala rasa dan keinginannya yang membuncah untuk bisa berkencan dengan Al-Malikah akan terpenuhi.

Namun, ketika Abid sudah berada di kamar dan duduk di atas ranjang, tubuhnya mendadak gemetar. Peluh dingin membasahi tubuhnya. Dan ketika Al-Malikah memeluknya, Abid meronta berusaha melepaskan diri.

"Lepaskan! Lepaskan aku! Dan ambillah uang 1000 dinar yang ada dalam sakuku," teriak Abid seraya berusaha bangkit dari ranjang pelacur itu.

"Kenapa kau? Apa yang terjadi pada dirimu?" tanya Al-Malikah tak mengerti.

"Aku takut," kata Abid masih gemetaran.

"Takut? Takut sama siapa?" tanya Al-Malikah.

"Aku takut kepada Allah. Bagaimana nanti aku harus mempertanggungjawabkan perbuatan maksiatku ini kepadanya?" ujar Abid.

Mendengar jawaban itu, Al-Malikah menjadi tertegun, termangu di atas ranjangnya. Takut kepada Allah? Tanyanya dalam hati. Sungguh kata-kata itu telah menyelusup ke relung hatinya, menyentuh nuraninya. Suatu kejadian aneh atas dirinya, yang tak pernah ia alami sebelumnya. Padahal telah berpuluh-puluh lelaki jatuh ke pelukannya, tapi yang bersikap seperti Abid baru ditemuinya kali ini.

Tak terasa airmata Al-Malikah menetes membasahi pipinya. Terbayang semua dosa yang selama ini ia lakukan sebagai seorang pelacur. Terdorong oleh rasa simpatinya, Al-Malikah pun berkata kepada Abid. "Aku merasa bersimpati kepadamu, dan aku merasa sangat kagunm akan keimananmu. Maukah kau mengambilku sebagai istri?" kata Al-Malikah sambil tersedu.

"Mengambilmu sebagai istri? Oh, jangan! Aku akan pergi meninggalkan tempat ini," sahut Abid seraya bergegas meninggalkan kamar perempuan itu.

"Jangan pergi! Bila kau tak bisa melakukan karena kita bukan suami-istri, jadikanlah aku istrimu," kata Al-Malikah.

"Mana mungkin?" sahut Abid tak mengerti.

"Kenapa tidak mungkin? Aku sangat kagum dengan sikap dan ketakwaanmu. Silahkan kau meninggalkan tempat ini, tapi kau harus berjanji akan menikahiku," kata Al-Malikah.

"Baiklah kalau begitu," kata Abid tanpa pikit panjang lagi sambil meninggalkan kamar Al-Malikah.

Begitu Abid meninggalkan kamarnya, Al-Malikah bertekad akan meninggalkan pekerjaannya sebagai pelacur. Ia merasa menyesal atas perbuatannya selama ini dan mulai detik ini juga ia akan bertaubat.

Terkadang hidayah Allah memang tak bisa diduga. Tanpa sengaja, lelaki yang baru saja meninggalkan kamarnya itu telah menyadarkan dirinya dari perbuatan maksiat yang bergelimang dan berlumur dosa. Dan kini ia juga bertekad agar dirinya diambil istri oleh lelaki itu.

Beberapa hari kemudian, dengan hati yang berdebar-debar, Al-Malikah datang ke desa tempat tinggal Abid untuk mencarinya. Mendengar dirinya dicari oleh Al-Malikah, Abid menjadi sangat ketakutan. Abid tak membayangkan bahwa Al-Malikah benar-benar akan mencarinya. Karena sangat takutnya, Abid jatuh pingsan dan akhirnya meninggal dunia.

ketika mengetahui kematian Abid, Al-Malikah menangis tersedu-sedu. Ia merasa sedih dan kecewa. Lelaki bertakwa yang diharapkan menjadi suaminya telah meninggal sebelum sempat menikahi dirinya.

"Bila saar ini urung menjadi suami Abid, biarlah aku akan menikah dengan saudara Abid," kata Al-Malikah dalam hati. Hal ini dilakukan terdorong oleh keinginannya untuk menebus dosanya selama ini.

Dengan berusaha payah Al-Malikah mencari tahu dan menelusuri tentang keluarga Abid. Akhirnya, dari seorang teman Abid diketahui, bahwa Abid mempunyai saudara laki-laki, tetapi sangat miskin. "Saudaranya Abid itu sangat miskin. Engkau akan sangat menyesal kalau engkau menikah dengannya," kata teman Abid mengingatkan Al-Malikah.

"Biar dia miskin aku tak peduli," jawab Al-Malikah spontan. "Aku tetap ingin menikah dengannya, sebagai rasa cintaku kepada saudaranya."

Beberapa pekan kemudian, terlaksanalah perkawinann Al-Malikah, mantan pelacur cantik, dengan saudara lelaki Abid yang miskin. Allah telah membuka hati Al-Malikah dengan taufik dan hidayahnya. Berbahagialah mantan pelacur itu.

Mudah-mudahan kisah ini bisa menjadi pelajaran yang berharga untuk kita semua. Amin,

Senin, 22 Oktober 2012

Galau dan Alay? No Way!


Wah, bahas soal galau dan alay neh? Hehehe.. iya. Abisnya kamu juga pada galau mulu dan sebagian besar tetap memelihara gaya alay sampai beranak-pinak. Hmm… jangan-jangan sebenarnya penganut ‘mazhab’ galau dan alay udah sejak lama. Sehingga kamu yang suka galau dan tampil alay saat ini adalah udah keturunan yang ke-10. Hadeeeuuh…
Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam, sebenarnya risih banget lho kalo ketemu ama remaja yang suka galau. Hih, kesannya semua orang tuh pengen dikasih tahu kalo dirinya lagi punya masalah, ujung-ujungnya pengen dikasihani (tapi kayaknya ogah tuh kalo disantuni. Bwaaah!). BTW, gaulislam pernah bahas soal galau ini, judulnya “Generasi Galau? Don’t Follow!”, coba deh cek di www.gaulislam.com (edisi 213, 21 November 2011). So, kamu secara khusus bisa baca lebih detil di edisi tersebut ya. Kalo di edisi ke-254 ini dibahas dengan angle sedikit beda dan juga ada tambahan generasi alay. Insya Allah tetap menarik kok. Yuk, dilanjut bacanya.
Nah, dengan alasan itulah buletin kesayangan kamu tetap bahas soal ini. Ya, sebab nggak reda juga kondisi remaja yang suka galau dan doyan tampil alay. Entah karena menganggap bagian dari perkembangan zaman, atau emang nggak ada yang ngingetin. Sayang banget kan kalo sampe generasi remaja di masa depan justru nggak serius dalam hidup, atau malah nggak punya tujuan hidup karena keseringan galau dan memilih gaya hidup alay? Duh, jangan sampe deh!
Saya ngebayangin—mudah-mudahan sih nggak kejadian—suatu saat nanti anak alay ini makin merajalela. Untuk persoalan bahasa saja kita pasti akan kesulitan. Kenapa? Hehehe.. udah pada tahu kan, kalo anak alay senengnya ngubah bahasa tulisan dengan karakter yang nggak jelas. Contoh: “54y4 m0 kE sannnaaaa… yach, kamuw addha di HoME gx?” Belum lagi nulisnya: akyu, aquh, luph, ciinnnn, cemungadddh, bla..bla… akun facebook namanya narsis abis: DeWI Cellalu Cenyhumm; Bryan pengEN nyang ENTU. Hadeuh.. cape deh!
Waduh, tuh para ortu mereka bisa ngeden dan mencret mulu baca SMS kayak gitu. Belum lagi para pembuat software khusus tunanetra, pasti stres ngikutin perkembangannya karena bakalan kesulitan ‘nerjemahin’ SMS kayak gitu, misalnya aplikasi text-to-speech. Dan, hahahaha… jadi inget gini, untuk tulisan normal aja, huruf Braille itu menyusahkan bikinnya (termasuk bacanya), gimana yang model tulisan anak alay gini ya? Tambah parah dah! *emang nyusahin tuh anak alay!

Santai tapi serius, Bro
Hidup ini harus serius dinikmati. Iya. Sebab, hidup itu anugerah, Bro en Sis. Kita bisa menikmati indahnya dunia, bisa ngobrol bareng temen-temen (yang tentu saja manusia juga. Hehehe.. emangnya pernah kamu ngobrol dan bisa komunikasi timbal-balik dengan pohon atau hewan?). Selain itu, dalam hidup kita juga bisa merancang harapan dan mewujudkannya melalui usaha dan doa. Kenapa hidup bisa menjadi lebih indah? Sebab hidup juga punya tujuan jelas. Bener banget. Kalo nggak punya tujuan jelas mau ngapain dalam hidup ini, pastinya kita juga bakalan limbung nggak karuan dalam menjalani kehidupan. Ibarat orang mau pergi ke suatu tempat tapi bingung tempat mana yang akan dituju. Begitu nyampe terminal bis, bingung karena banyak pilihan jurusan. Celakanya, orang kayak gini kalo megang duit bakalan ujug-ujug naik mobil aja dengan alasan yang penting senang walau bukan untuk tujuan yang akan membuatnya selamat.
Sobat muda muslim pembaca setia gaulislam, itu sebabnya dalam hidup ini kita harus bersyukur dan menunjukkan rasa syukur kita dengan beriman kepada Allah Swt., bertakwa dan jalani ibadah dengan benar. Lho.. lho.. hubungannya apa kok bahas soal galau dan alay nyambungnya kepada keimanan segala?
Hehehe.. tentu saja ada kaitannya, Sob! Nyambung banget tuh. Misalnya nih, kamu lagi dilanda susah dan didera masalah, ya jangan mudah untuk galau pikiranmu, jangan mudah gelisah lalu putus asa. Jangan sampe kayak gitu. Remaja muslim yang beriman kagak pantes miara sifat galau, mending miara sapi aja karena bisa gemuk terus dijual. Lha, kalo miara galau? Kamu jadinya punya hobi nyoretin ‘dinding’ facebookmu dan facebook kawanmu dengan kata-kata penuh kegalauan. Widih tuh wall penuh dengan curahan putus asa. Halah, cemen! Hidup itu wajar kalo diuji dan ujiannya susah. Sebab, dalam hidup kita harus hadapi kenyataan, dan kenyataan tak selalu yang kita suka. Maka, kreatiflah mencari jalan keluar untuk menyelesaikan masalah kehidupanmu. Boleh dikata, hidup ini keras, maka gebuklah! (hehehe ini sih judul bukunya Prie GS ya?)
Bro en Sis, hidup jangan dibuat susah. Santai aja. Nggak usah pusing kalo nggak kesampaian maksud kita. Tak perlu merasa gagal total kalo cita-cita tak bisa diraih. Sabar, sabar dan sabar. Lalu interospeksi, evaluasi dan cari jalan keluar. Jangan mengeluh, tak perlu galau, nggak usah putus asa.
Meski nyantai, tetapi urusan tujuan hidup harus serius. Ya, harus jelas mau kemana setelah kehidupan di dunia ini. Bagi kaum muslimin, akhirat adalah tujuan akhir. Oya, harus diingat, agar perjalanan ke akhirat itu berakhir menyenangkan (yakni meraih surga), maka kudu punya bekal. Bekal untuk ke sana bukanlah harta, bukan jabatan, bukan status sosial di mata manusia. Tetapi amal shalih yang kita lakukan dengan penuh keikhlasan dan semata mengharap ridho Allah Swt.
Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS al-Hasyr [59]: 18)
Tentu saja, untuk meraih kebahagiaan di akhirat kelak, kita harus serius untuk mendapatkannya. Yuk, siap ya!

Sadarlah generasi alay!
Bro en Sis, ‘penggila’ gaulislam, seperti yang udah kamu tahu soal anak alay, karena bisa jadi itu kawanmu di sekolah, saudaramu satu rumah, atau malah dirimu sendiri yang udah eksis jadi anak alay, maka kita harus menyadarkan mereka (termasuk nyadarin diri sendiri). Iya nggak sih?
Ketahuilah kawan, meski kelihatannya sepele soal anak alay, tetapi saya merasa harus menyadarkan. Gimana pun juga, generasi alay nggak berhenti hanya pada bahasa dan model penulisan dalam menyampaikan pesan. Hal lain yang justru perlu diwaspadai adalah soal gaya hidup. Jika “alay” sudah menjadi karakter, maka akan mudah bagi orang tertentu untuk merasa terbiasa jadi generasi alay. Menganggapnya hal sepele dan lumrah. Sebagian menyebutnya sebagai bagian dari dinamika hidup. Waduh, nggak banget, Sob!
Dinamika hidup bukan soal gaya hidup, apalagi gaya hidup yang keliru bin salah karena jauh dari syariat Islam. Anak alay juga sebelas dua belas ama anak-anak yang sering merasa galau. Persis banget kelakuannya, bagai pinang dibelah satpam (apa hubungannya?). Hmm.. atau nih sebenarnya udah satu paket bahwa anak yang sering galau tuh pastinya anak alay, atau anak alay adalah anak yang seringnya curhat di sembarang tempat—terutama situs jejaring sosial dan mereka itu gampang banget ngerasa galau. Tapi terlepas dari soal itu, sikap galau dan alay nggak pantes banget nemplok pada diri remaja muslim. Catet!

Jadilah remaja smart pejuang syariat
Bro en Sis rahimakumullah, calon para pembela Islam dan pejuang dakwahnya, sebagai remaja kamu harusnya keren, smart dan bangga jadi pejuang syariat. Buang deh jauh-jauh karakter yang gampang galau dan memble ala anak alay dari folder kepribadianmu. Delete saja. Buka folder recycle bin, lalu empty dah isinya. Nah, jangan sekali-kali kamu pake ‘software’ lain untuk ngembaliin file-file galau dan alay dari tempat sampah itu. Please jaga baik-baik dirimu, Bro!
Sobat muda muslim, ayo bangkit dan masuk ke dalam barisan pejuang Islam. Makin banyak yang berjuang, insya Allah kian besar pengaruhnya dalam mewarnai kehidupan ini. Meski adakalanya sebuah peperangan atau revolusi tak selalu berbanding lurus dengan jumlah pejuangnya. Artinya, tak selamanya jumlah banyak bisa memenangkan pertempuran. Karena yang terpenting adalah kesamaan visi dan misi. Lebih hebat lagi tentunya jumlah banyak dan punya kesatuan visi dan misi. Betul nggak seh?
Jadi, yuk mari tekadkan dan kuatkan perjuangan kita. Jangan pernah takut terhadap apapun, kecuali kepada Allah. Bahkan kita kabarkan kepada dunia, bahwa ancaman kematian, bukanlah penghalang bagi perjuangan kita untuk membela Islam. Seperti kata Syekh Ahmad Yassin: “Kematian tak pernah menakutkan kami. Sebab melalui itu, kami menemukan jalan menjadi syuhada.” Allahu Akbar!  Dahsyat semangat keimanannya.
Ayo, jangan takut, jangan minder, dan jangan malu en males jadi pejuang Islam. Kita di jalan yang benar sobat. Kita tidak sendirian. Jumlah kita ribuan, bahkan jutaan yang akan berjuang membela Islam. Sebagai penyemangat perjuangan, yuk kita sama-sama senandungkan salah satu lirik nasyid Izzatul Islam yang oke punya: “Barisan mujahid melangkah ke depan/ Tanpa rasa takut menghalau rintangan/ Cahya Islam kan selamanya memancar/ Dengan darah kami sebagai pembakar”. Tetep semangat berjuang sampai akhir hayat. Enyahkan galau dan alay dari dalam kehidupanmu!
So, jangan pesimis ya. Kemenangan Islam memang insya Allah akan datang. Melalui keterlibatan kita, atau bahkan tanpa keterlibatan kita. But, tentu alangkah nikmatnya jika kita menjadi bagian dari perjuangan untuk meraih kemenangan tersebut. Iya nggak sih?
Maka, daripada galau dan alay, mendingan buruan nyadar, berkemas untuk belajar ngaji, pahami, amalkan dan dakwahkan. Sehingga kamu nantinya bisa bilang: galau dan alay? No way! Smart dan pejuang syariat? Yes banget!

Source: http://www.gaulislam.com/galau-dan-alay-no-way/comment-page-1#comment-14353

Al-Barrak Si Pemburu Syahid




Al-Barrak bin Malik adalah adik kandung pelayan Rasulullah SAW. sahabat Anas bin Malik. Dikenal taat beragama dan pemberani ketika berperang melawan musuh Allah  ‘azza wa jalla. Baik perang yang disertai Rasulullah maupun tidak, Ibnu Malik tak pernah ketinggalan mengikutinya.
Suatu hari Al-Barrak jatuh sakit. Ketika menangkap sesuatu di muka sahabat-sahabat yang menjenguknya, dia berujar, “Mungkin kalian mengira aku akan mati di tempat tidurku. Tidak, demi Allah! Dia tidak akan menghalangi mati syahid!”
Kepahlawanan Ibnu Malik adalah cermin watak dan tabiatnya yang pemberani, dia selalu memburu syahid. Dari keberaniannya, Umar bin khattab sampai merasa perlu memerintahkan agar dia tidak menjadi panglima. Sang Khalifah khawatir sifat beraninya akan membahayakan anak buahnya.
Ketika pasukan islam pimpinan Khalid bin Walid menghadapi pasukan nabi palsu Musailamah Al-Kadzdzab, Al-Barrak berdiri di front Yamamah. Dia merasa terlalu lama menunggu perintah panglima untuk menyerbu musuh. Kedua matanya yang tajam bergerak menelusuri seluruh medan tempurr, seakan tengah mencari tempat terbaik untuk bersemayam dalam syahid. Begitu Khalid meneriakkan takbir, majulah sang pemburu syahid bersama pasukan islam. Ia terus mengejar pasukan Musailamah dengan pedangnya, hingga mereka berjatuhan laksana daun kering gugur berjatuhan.
Pasukan musuh di samping berjumlah banyak juga terlatih, sehingga pasukan muslim tidak mudah menghancurkannya. Mereka menjawab serbuan kaum muslim dengan perlawanan yang gigih sehingga kendali pertempuran berhasil dikuasainya. Melihat hal itu komandan muslim berteriak memberi semangat kepada pasukannya untuk tetap melanjutkan pertempuran. Khalid yang melihat pasukannya di bawah tekanan lawan segera memanggil Al-Barrak.
Dia pun menyerukan kalimat kepahlawanan yang penuh semangat …, “Wahai penduduk Madinah ..! Sekarang tak ada lagi Madinah bagi kalian, yang ada hanyalah Allah dan surga…!” Benarlah perkataannya, di saat itu tidaklah sewajarnya memikirkan tempat lain. Kalau mereka kalah, maka tidak ada artinya kota Madinah. Perkataan Al-Barrak mampu membangkitkan semangat temput pasukan muslim. Akhirnya kaum muslimin dapat menguasai keadaan dan bahkan unggul.
Melihat hal itu tentara musyrik berlindung di sebuah perkebunan besar, mereka menjadikannya sebagai benteng. Akibatnya pertempuran menjadi reda dan semangat kaum muslimin menurun. Jika kondisi demikian dibiarkan, maka musuh akan bisa mengambil kendali pertempuran.
Disaat genting itulah Al-Barrak naik ke tempat yang tinggi dan berseru, “Wahai kaum muslimin lemparkan aku ke dalam perkebunan tempat mereka bertahan..!” Dia berharap untuk bisa membukakan pintu gerbang bagi kaum muslimin. Tapi ada lebih dia nanti, yakni ayunan pedang-pendang musuh yang akan mengoyak tubuhnya untuk menjemput syahid. Ia berharap mendapati pintu surga terbuka, menyongsongnya bersama para syuhada yang lain.
Ingat itu, Al-Barrak tidak menunggu sampai kaum muslimin melemparkan tubuhnya, dia segera mendaki benteng pertahanan musuh. Setelah meloncat masuk dibukakanlah pintu gerbang musuh buat jalan pasukan muslimin. Namun sayang, mimpinya belum sepenuhnya menjadi kenyataan, tebasan pedang musuh tidak sampai membunuhnya. Benar perkataan As-Shiddiq, “Songsong dan carilah kematian, pasti akan mendapatkan kehidupan.”
Apakah syahid belum juga mendatangi Al-Barrak si pemburu syahid? Sudah… sekarang sudah datang masanya! Inilah perang Tutsur, peperangan yang melibatkan dua pasukan besar, kaum muslim berhadapan dengan tentara Persi. Di sinilah Al-Barrak akan merayakan pesta terbesarnya. Di antara pasukan Islam terdapat Anas bin Malik beserta saudaranya, sang pemburu syahid, Al-Barrak bin Malik.
Ketika perang tengah berkecamuk sebagian sahabat mendatangi Al-Barrak. Mereka menghimbaunya, “Masih ingatkah engkau tentang perkataan Rasulullah mengenai dirimu? ‘Berapa banyak orang yang rambutnya kusut masai penuh debu. Hanya dua pakaian yang dia punya, itupun telah lapuk, akibatnya tidak diperhatikan orang sama sekali. Padahal seandainya ia mohon kepada Allah maka akan dikabulkan’. Dan di antara mereka adalah engkau! Wahai Al-Barrak berdoalah kepada Allah, agar ia menolong kita dan mengalahkan musuh!”
Al-Barrak mengangkat kedua tangannya seraya berdoa, “ Ya Allah, kalahkanlah mereka dan tolonglah kami. Pertemukanlah aku dengan Nabi-Mu, hari ini jua…!” Diamatinya saudaranya yang tengah berperang, seakan ingin mengucapkan selamat tinggal. Dengan penuh keberanian menyerbulah ia bersama kaum muslimin. Akhirnya mereka mendapat kemenangan, kemenangan yang nyata.
Usai peperangan dicarilah para syuhada pahlawan perang. Di antara mereka terdapat sang pemburu syahid Al-Barrak bin Malik, wajahnya tersenyum penuh cahaya. Tangan kanannya menggenggam segumpal tanah bercampur darahnya. Pedangnya tergeletak disamping kirinya, tak terpatahkan, rata tanpa goresan. Bersama para syuhada lainnya dia telah memenuhi panggilan Allah, mencapai derajat mulia dan mendapatkan surga. “itulah surga yang Kami wariskan untuk kalian, sebagai balasan atas amal perbuatan kalian …!” (Al-A’raf:43)

JANGAN MOVE ON SETELAH SHALAT !!!


“Assalamu ‘alaikum warahmatullah …,” suara imam mengakhiti shalat. Begitu usai salam tidak sedikit yang langsung berebut keluar masjid. Ironisnya bukan Cuma anak-anak, banyak remaja maupun dewasa yang ikutan keluar. Kalau memang ada keperluan sebenarnya bisa dimaklumi. Namun banyak kejadian, mereka yang keluar ternyata hanya duduk-duduk di depan masjid.
Mereka melupakan amalan sunah yang sebenarnya sangat disayangkan kalau ditinggalkan. Bagaimana tuntunan Nabi Muhammad SAW. Selepas shalat?
Tuntunan Rasul SAW.
Jangan buruan pergi selepas salam! Masih ada aktivitas penting yang sangat bagus untuk dilakukan. Tidak lain adalah berzikir. Dzikir-dzikir apakah yang dicontohkan Rasulullah setelah shalat?

  1. 1.       Istighfar (Meminta Pengampunan
Dengan  megucapkan asstaghfirullah (Aku mohon ampunan kepada-Mu ya Allah) sebanyak tiga kali. Kemudian dilanjutkan dengan membaca
Allahuma antas salam wa minkas salam tabarakta dzal jalali wal ikram
“Ya Allah, Engkaulah Assalam (Yang maha tiada cacaat dan kekurangan dari segala sisi) dan keselamatanlah dari-Mu kebaikan-Mu sangat banyak Yang memiliki keagungan dan kemuliaan).” Tersebut dalam hadits riwayat Imam Muslim.

  1. 2.       Tahlil (membaca laa ilaaha illah)
Bacaan tahlil adalah sebagai berikut.
Laa ilaha illa Allah wahdahu laa syarikalahu. Lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syai’in qadiir. Laa illa Allah. Wala na’budu illa iyyahu. Lahun ni’matu wa lahul fadhlu. Walahuts tsanaul hasan. Laa ilaha illa Allah mukhlisina lahud diin walau karihal kafirun.
“(Tiada sesembahan yang hak kecuali Allah Yang Tunggal tiada sekutu bagi-Nya. Kerajaan dan pujian hanyalah milik-Nya, dan Dia berkuasa atas segala sesuatu. Tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah. Tiada sesembahan yang hak kecuali Allah. Dan kami tidak beribadat kecuali kepada-Nya. Nikmat dan keutamaan hanyalah milik-Nya. Begitu juga pujian yang bagus. Tiada sesembahan yang hak kecuali Allah, tetap memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam beragama walaupun kaum musyrikin begitu bencinya)”

  1. 3.       Bertasbih, tahmid dan takbir
Mengucapkan Subhanallah sebanyak 33 kali, dilanjutkan dengan membaca Allhamdullilah 33 kali dan Allahuakbar 33 kali. Kemudian digenapkan menjadi seratus dengan membaca :
Laa ilaha illa Allah wahdahu laa syarikalahu lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai qadiir

  1. 4.       Membaca almu’awwidzat,
Yakni surat An-Naas, Al-Falaq dan Al-Ikhlas

  1. 5.       Membaca ayat kursi
Bacaan inilah yang dicontohkan oleh rasulullah SAW. setelah shalat kawan-kawan. Sesuatu yang dicontohkan oleh rasulullah SAW. patut bagi kita untuk menirunya. Wassalamu’alaikum :*

Minggu, 21 Oktober 2012

Seorang Pemuda dan Sebuah Terong

Di kota Damaskus, ada sebuah masjid yang besar dan luas. Masjid Jami' at-Taubah namanya. Ia adalah seobuah masjid yang penuh keberkahan. Di dalamnya ada ketenangan dan keindahan. Sejak tujuh puluh tahun, di masjid itu ada seorang syeikh pendidik yang alim dan mengamalkan ilmunya. Ia sangat fakir, sehingga menjadi contoh dalam kefakirannya, dalam menahan diri dan meminta., dalam kemuliaan jiwanya, dan dalam keikhlasan berkhidmat untuk kepentingan orang lain.

Saat itu, ada seorang pemuda yang bertempat di sebuah kamar dalam masjid. Sudah dua hari berlalu tanpa ada makanan yang dapat dimakannya. Ia tidak mempunyai makanan atau pun uang untuk membeli makanan. Saat datang hari ketiga, ia merasa bahwa ia akan mati. Ia pun berpikir tentang apa yang akan dilakukannya.

Menurutnya, saat ini ia telah mencapai pada kondisi terpaksa atau darurat, yang secara hukum agama islam, membolehkannya memakan bangkai atau mencuri sekedar untuk bisa menegakkan tulang punggungnya. Itulah pendapatnya pada kondisi semacam ini.

Atap masjid tempat ia tinggal bersambung dengan atap beberapa rumah yang ada di sampingnya. Hal ini memungkinkan seorang untuk pindah dari rumah satu ke rumah yang lainnya dengan berjalan di atas atap rumah-rumah tersebut. Maka, ia pun naik ke atas atap masjid dan dari situ ia pindah ke rumah sebelah. Di situ ia melihat orang-orang wanita, maka ia memalingkan pandangannya dan menjauh dari rumah itu.

Lalu ia melihat rumah yang di sebelahnya lagi. Keadaannya sedang sepi dan ia mencium ada bau masakan berasal dari rumah itu. Rasa laparnya bangkit, seolah-olah bau masakan tersebut magnet yang menariknya.

Rumah-rumah di masa itu banyak dibangun dengan satu lantia, maka ia melompat dari atap ke dalam serambi. Dalam sekejap, ia sudah berada di dalam rumah dan dengan cepat ia masuk ke dapur lalu mengangkut tutup panci yang ada di situ. Dilihatnya sebuah terong besar dan sudah dimasak. Segera ia ambil satu, dan karena rasa laparnya, ia tidak lagi merasakan panasnya, digigitlah terong yang ada di tangannya dan saat itu ia mengunyah dan hendak menelannya. Namun, ia segera ingat dan timbul lagi kesadaran beragamanya. Segeralah ia berkata, "A'udzu billah! Aku adalah penuntut ilmu dan tinggal di masjid, pantaslah aku masuk ke rumah orang dan mencuri barang yang ada di dalamnya?"

Ia merasa bahwa apa yang telah dilakukannya adalah sebuah kesalahan besar, lalu ia menyesal dan beristighfar kepada Allah, kemudian mengembalikan lagi terong yang ada di tangannya. Akhirnya, ia pulang kembali ke tempat semula. Lalu, ia masuk ke dalam masjid dan mendengarkan syeikh yang saat itu sedang mengajar. Karena terlalu lapar, ia tidak dapat memahami apa yang ia dengar.

Ketika majlis pengajian itu selesai, dan orang-orang sudah pulang, datanglah seorang perempuan yang menutup tubuhnya dengan hijab. Saat itu memang tidak ada perempuan kecuali ia memakai hijab. Kemudian, perempuan itu berbicara dengan syeikh. Sang pemuda tidak bisa mendengar apa yang sedang dibicarakannya. Akan tetapi, secara tiba-tiba syeikh itu melihat ke sekelilingnya. Sejauh mata memandang, tak tampak olehnya kecuali pemuda itu.

Dipanggil ia dan syeikh itu bertanya, "Apakah kamu sudah menikah?"

"Belum", jawabnya.

Syeikh itu bertanya lagi, "Apakah kamu ingin menikah?"

Pemuda itu diam. Syeikh mengulangi lagi pertanyaanya. Akhirnya pemuda itu angkat bicara, "Ya syeikh. Demi Allah, aku tidak memiliki uang untuk membeli roti, bagaimana aku akan menikah?"

Syeikh itu menjawab, "Wanita ini datang membawa kabar, bahwa suaminya telah meninggal dan ia adalah orang asing di kota ini. Di sini, bahkan di dunia ini, ia tidak mempunyai siapa-siapa kecuali seorang paman yang sudah tua dan miskin," kata syeikh itu sambil menunjuk seorang laki-laki yang duduk di pojok ruangan.

Syeikh itu melanjutkan pembicaraanya, "Dan wanita ini telah mewarisi rumah suaminya dan hasil penghidupannya. Sekarang, ia ingin seorang laki-laki yang mau menikahinya, agar ia tidak sendirian dan mungkin diganggu orang. Maukah kau menikah dengannya?"

Pemuda iru menjawab. "Ya, saya mau."

Kemudian syeikh bertanya kepada wanita itu, "Apakah engkau mau menerimanya sebagai suamimu?"

Ia menjawab "Ya saya mau."

Maka syeikh itu mendatangkan pamannya dan dua orang saksi, kemudian melangsungkan akad nikah dan membayarkan mahar untuk muridnya itu. Kemudian syeikh itu berkata, "Peganlah tangan istrimu!" Dipeganglah tangan istrinya dan sang istri membawa ke rumahnya.

Setelah keduanya masuk ke dalam rumah, sang istri membuka kain yang menutupi wajahnya. Tampaklah oleh pemuda itu, bahwa ia adalah seorang wanita yang masih muda dan sangat cantik.

Sang istri bertanya, "Apakah engkau ingin makan, wahai suamiku?"

"Ya," jawabnya.

Lalu ia membuka tutup panci di dapurnya. Saat melihat buah terong di dalamnya ia berkata, "Heran, siapa yang masuk ke rumah dan menggigit terong ini?"

Mendengar perkataan istrinya, pemuda itu sadar bahwa rumah ini adalah rumah yang tadi ia telah masuki. Ia pun menangis dan menceritakan kisahnya kepada istrinya. Setelah mendengar cerita itu, Istrinya lalu berkata, "Ini adalah buah dari sifat amanah. Engkau telah menjaga kehormatanmu dan engkau tinggalkan terong yang haram itu, lalu Allah berikan rumah ini semaunya berikut pemiliknya dalam keadaan halal. Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik dari itu."

Mudah-mudahan kisah ini bisa menjadi pelajaran yang berharga untuk kita semua. Amin

Senin, 15 Oktober 2012

Pacaran Jarak Jauh

Sobat muda gaulislam, pasti bosen deh sama kata yang jadi bahasan gaulislam kali ini. ‘Pacaran’, wuaah…! Udah berkali-kali bahas ini. Tapi, ilmu itu kan nggak akan pernah habis. Mungkin kamu emang bosen. Namun, belum tentu buat teman-temanmu yang masih baru kenal gaulislam, atau baru ngeh soal Islam. So, kali aja ada yang belum tahu hukum seputar pacaran ini. Iya kan?
Nyok, kita bahas tema kita kali ini tentang Pacaran Jarak Jauh.

Jauh di mata dekat di hati
Hayoo..! Bukan belek (kotoran di mata) ya dekat di mata jauh di hati. Hehe. Yup, pacaran jarak jauh atau yang biasa kita kenal long distance relationship ini sangat populer nih, di kalangan remaja.
Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gauislam, di era serba canggih dan instan ini nggak jadi alasan sejauh mana lokasi seseorang untuk berkomunikasi. Meski adanya di belahan dunia nun jauh di sana, proses komunikasi bisa tetap terjalin. Kecuali, ya mungkin kalo nggak terdeteksi radar or sinyal (*apalagi kalo udah diadakan tahlilan alias meninggal). Peluang ini akhirnya dimanfaatkan oleh segelintir orang untuk tetap menjalin ‘hubungan’ meski jauh di hadapan mata.
“Cinta tak mengenal ruang dan waktu” mungkin benar adanya. Kalo kita lihat kenyataan saat ini, banyak  remaja yang pisah daerah sama pacarnya, tapi mereka tetap menjalin hubungan. Banyak juga nih, orang yang akhirnya cinlok  di dumay alias dunia maya. Awalnya di Facebook, Twitter atau di sosmed lainya, cuman sering berbalas komentar, terus beralih ke chatting, sampe video call. Bahasa yang digunakan pun, awalnya cuma bahasa nyantai biasa, lalu mulai merayap ke bahasa hati. Waduh.. mulai deh cinlok dan akhirnya pacaran. *walaupun ada yang ngeles dengan alasan, hubungannya sebagai ta’arufan. Ah, ngawur kamu!
Katanya, (kata siapa ya?) mereka yang pacaran jarak jauh itu nggak jadi hambatan lho. Sebab, boleh-boleh aja doi jauh di mata. Tapi di hati, doi paling lengket. Serodot.. gubraak! *Halah, pembenaran doang itu sih!
Tapi kalo dipikir-pikir, emang bener juga sih. Meski jarak antara mereka berpuluh-ratus kilometer, ‘ser’ nya itu pasti kerasa kalo lagi komunikasi. Ehm, berdasarkan survei juga (secara diem-diem hehehe), kata-kata yang diungkapkan lewat tulisan itu, memang terasa lebih  masuk ke hati, dibanding kata-kata yang terucap  mulut kita yang kadang-kadang suka kepleset. Jadi kalo ada komusnikasi lewat sms atau chatting itu lebih nyampe ke hati. Bener!
Meski begitu, banyak juga lho yang ketipu nih sama pacaran kayak gini. Kenalan di Fb, foto sih kece abis. Eh, pas ketemuan ‘enek abis. Wajar aja kalo akhirnya banyak yang kecewa. Sebab, peluang bohong itu leluasa banget. Kan kita nggak tahu apa yang dilakuin doi dengan kehidupan aslinya.  Akun islami pun nggak ngejamin pemiliknya bener-bener sholih/shalihah. Belum lagi predator seksual yang saat ini menjamur di dumay, diajakkin ketemuan. Lalu, dibawa ke hotel untuk diajak berzina, atau diculik dan dijual. Banyak lagi deh. Bikin ngeri banget pokoknya. Jadi, hati-hati ya.
Pernah nih ada yang tanya, “gimana kalo pacarannya cuma di hape, sms-an aja?”. ya itu juga, masuk kategori pacaran juga dong!
Bro en Sis, soal LDR ini, meski jaraknya jauh mereka kan tetep bisa komunikasi dengan kata-kata layaknya orang pacaran. Mesra-mesraan, sayang-sayangan, atau bahkan sampai ke tingkat yang lebih bahaya, dengan menggunakan kata-kata yang mengundang syahwat. Padahal, selain kita diminta jaga kehormatan dan menjaga diri dari zina, kita pun diminta untuk menjaga segala hal dari diri kita, yang dapat mengarah pada zina sesungguhnya. Termasuk hati kita. Waspadalah!
Rasulullah saw. Udah wanti-wanti nih ke kita seputar masalah ini. Sabda beliau saw.: “Tercatat atas anak Adam nasibnya dari perzinaan dan dia pasti mengalaminya. Kedua mata zinanya melihat, kedua telinga zinanya mendengar, lidah zinanya bicara, tangan zinanya memaksa (memegang dengan keras), kaki zinanya melangkah (berjalan) dan hati yang berhasrat dan berharap. Semua itu dibenarkan (direalisir atau diwujudkan) oleh kelamin atau digagalkannya”. (HR Bukhari)

Karena, rasa cinta itu naluri
Naluri! Ya, itu memang kalo kita suka sama lawan jenis. Tapi, naluri ini jangan dibiarin nggak terkendali gitu, yang akhirnya jatuh ke hal yang salah. Naluri ini harus senantiasa dibimbing oleh aturan yang berasal dari Allah Swt, sebagai pencipta manusia. Dalam aturan Allah ini, sama sekali tidak dikenal yang namanya ‘pacaran’. Sebab, pacaran adalah hubungan terlarang antara laki dan perempuan yang bukan mahrom. Sebab itu ‘pintu gerbang’ menuju perzinaan. Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk”. (QS: al-Isra’ [17]: 32)
Jadi, di mana pun kita, mau jarak deket, atau jarak jauh ya pacaran tetep pacaran. Kan pacaran itu salah satu aktivitas mendekati zina. Berarti diharamkan. Bagi pelakunya tentu akan mendapatkan dosa. Malah, kalo nggak tobat di akhirat nanti bakal disiksa. Siksa Allah Ta’ala itu amat begitu pedih lho.
Duh, kalo inget dosa gini, sebenarnya kita kudu sedih, sebab banyak banget di antara temen kita saat ini yang menganggap enteng azab Allah. padahal dalam sebuah hadits Rasulullah saw. bersabda:”Sesungguhnya azab yang paling ringan dari penghuni neraka pada hari kiamat ialah seseorang yang diletakkan pada kedua telapak kakinya sepotong bara api yang menyebabkan otaknya mendidih”(Mutafaq ‘alaih)
Bro en Sis pembaca setia gaulislam, harusnya  dikasih hadis ini buat temen-temen yang masih setia pacaran. Kita udah harus bener-bener takut nih sama dosa dan balasannya di akhirat kelak. Serem ya. Jadi, kalo kita mengaku orang yang beriman, tentu kita pun nggak pikir-pikir lagi untuk  nerima seluruh aturan Allah Swt., termasuk hukum mengenai pacaran. Gimana pun prosesnya, kalo ia tertera status ‘pacaran’, ya tetap haram dilakukan. Gimana kalo nggak ada, tapi aktivitasnya mirip orang pacaran, kayak HTS (hubungan tanpa status)? Tetaplah ia terlarang dan dosa.
BTW, ada juga lho pacaran tapi pake istilah ta’arufan dan menyebutnya pacaran islami. Hadeeeuuh, ngasal bin ngawur! Kamu pikir aja lagi. Masa’ ada minyak nyampur sama air? Kecuali kalo ditambahin detergen kali ya. Butek deh jadinya. Intinya. Islam itu haq, sedang pacaran itu bathil. Yang haq nggak mungkin tercampur dengan yang bathil. Nantinya samar-samar dong? Padahal  Islam itu jelas. Mana yang haq, mana yang bathil. Nggak ada abu-abu. Pokoknya hitam dan putih, Sis.
So, kita harus mulai berani menyatakan “nggak ada namanya pacaran islami”. Sebab, meski ketemuannya jauh-jauhan. Kan, ada ajang baku tembak ‘syahwat’ antara pelakunya. Widiih, kayak bansus, eh Densus 88 aja yang doyan main tembak mati orang.
Ayo, jangan bohongin diri kamu sendiri. Meski jauh-jauhan tetep deg-degan kan? Khawatirnya lagi, meski kita saling ingetin tahajud dan beramal yang baik lainnya, kita bisa nggak ikhlas. Sebab, kita lakuinnya atas dasar doi yang ingetin, kita malu dan akhirnya rajin ibadahnya demi nyenengin pacar.
Kembali ke topik, yuk hindari segala bentuk pacaran. Mau pacaran jarak jauh, pacaran 5 langkah, pacar-pacaran, pacaran islami, HTS, jeung sajabana (baca: dan lain sebagainya). Itu semua  bentuk cabang dari pacaran. Semuanya itu diharamkan oleh Allah. Ehm, kenapa saya ngotot banget nyatain ini semua haram? Ya, karena induknyapun diharamkan, semuanya kan mendekati zina. Nampak jelas dalam al-Quran surah al-Isra’ ayat 32 di atas. Kita dilarang mendekati segala hal yang menjurus pada perzinaan.

Tetap pacaran, atau nikah?
Udah, nggak usah bingung hadapi masalah nalurimu itu. Sebab, itu kan cuman naluri. Jadi, kalo nggak terpenuhi hanya menimbulkan kere-sahan, nggak akan buat kita mati kok. Bener.
Bro en Sis, tentu Islam ngelarang pacaran bukan  berarti ngelarang manusia menuhin nalurinya. Tapi, Islam itu punya aturan tersendiri megenai hal ini. Aturan yang ‘khas’ dan tentunya sangat terjaga dari segala hal yang menjerumuskan manusia pada kehinaan. Aturan ini yaitu “pernikahan” melalui proses ta’ruf dan khitbah (pinangan).
Nah, bagi kamu yang udah mampu nikah, menikah lah. Namun, jika masih belum mampu, maka harus dengan penuh kerelaan untuk bershabar hingga saatnya tepat untuk menikah. Apalagi kalo kamu masih sekolah. Ya, fokus belajar aja dulu (dan banyak puasa, hehehe). Ok? Sabda Rasulullah saw.: “Wahai para pemuda, barangsiapa yang mampu memikul beban keluarga hendaklah menikah. Sesungguhnya perinikahan itu lebih dapat meredam gejolak mata dan nafsu seksual, tapi barangsiapa yang belum mampu hendaklah dia berpuasa karena (puasa itu) benteng (penjagaan) baginya”. (HR Bukhari)
Saya juga ngerasain kok, gimana beratnya tantangan jadi remaja itu, berat banget ya. Naluri mencintai yang Allah berikan, harus kita tahan sampai waktunya tiba dengan ikatan yang halal yaitu pernikahan. Sedang, sekarang ini kita dapati, teman-teman kita udah pada ngebonceng atau dibonceng pacarnya masing-masing. Ckckck….
Tapi, tenang Bro en Sis. Semua akan indah pada waktunya. Semua rasa sepi kita karena terasingkan, atau beratnya tantangan menahan hawa nafsu akan terbayar sudah, saat kita berdiri di hadapan Allah menyerahkan seluruh laporan ‘masa jabatan’ kita sebagai hambaNya di dunia. Atas usaha kita ini, kita pun dibayar dengan surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai karena keikhlasan kita mentaati seluruh aturanNya.
Kabar gembira dari Allah Swt. (yang artinya): “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam surga, (taman-taman) dan (di dekat) mata air-mata air (yang mengalir)”. (QS al-Hijr [15] :45)
Hmm, semoga keberkahan Allah selalu terlimpah untuk kamu semua yang bertakwa pada Allah. Syukuri atas segala anugerah keimanan. Tetap sabar hadapi ujian hidup. Tenang, kalo udah jodohmu pasti kamu dapatkan yang terbaik. Insya Allah

Source : http://www.gaulislam.com/pacaran-jarak-jauh

Minggu, 14 Oktober 2012

Kurban

Bagi kaum muslimin yang sudah memiliki kemampuan dan kelebihan rezeki hendaklah melaksanakan kurban sebab kurban merupakan tanda ketaatan seorang hamba kepada Allah Swt.. Dalam hal ini, marilah kita bahas tentang ibadah kurban..

1. Pengertian Kurban
Kata kurban berasal dari bahasa Arab qaraba  yang berarti pendekatan diri atau mendekatkan diri. Kata kurban telah dijadikan istilah dalam syariat islam untuk pengertian penyembelihan binatang ternak yang memenuhi syarat tertentu dilaksanakan pada waktu tertentu, dengan niat ibadah guna mendekatkan diri kepada Allah Swt..

Kurban disebut juga udhiyyah, yaitu binatang yang disembelih pada hari raya iduladha dan tiga hari tasyrik (11, 12, 13 Dzulhijah), yang diniatkan semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Syariat kurban didasarkan atas perintah Allah Swt dalam surat Al-Kautsar Ayat 1 sampai dengan 3.
Dalam ayat lain juga disebutkan, yaitu dalam quran surat Al-Hajj: 34

2. Hukum dan Tujuan Kurban
Dalam menentukan hukum kurban terjadi perbedaan pendapat bahwa antara Imam Hanafi dan imam-imam yang lain. Menurut Imam Hanafi, bahwa menyembelih binatang kurban hukumnya wajib, kewajiban itu berlaku untuk  setiap tahun bagi orang yang bermukim atau bertempat tinggal menetap di sebuah kampung.
Pendapat ini didasarkan pada hadits Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Salam :
"Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Salam bersabda: "Barangsiapa yang memiliki kemampuan, tetapi tidak berkurban maka janganlah ia menghampiri tempat shalat kami." (HR. Ahmad dari Abu Hurairah)
Menurut imam yang lain, yaitu Imam Maliki, Imam Syafi'i, dan Imam Ibnu Hambal, hukum melaksanakan ibadah kurban bukan wajib, tetapi sunah muakad. Adapun tujuan berkurban adalah sebagai bukti dari ketakwaan dan keikhlasan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Sabda Rasulullah :
"Sesungguhnya menyembelih kurban itu tidak wajib, tetapi sunah dari rasulullah saw." (HR. At-Tirmidzi)
3. Sejarah Singkat Kurban
Penyembelihan binatang kurban tidak bisa dipisahkan dengan sejarah diperintahkannya kurban, yaitu ketika Allah Swt. memerintahkan Nabi Ibrahim a.s. lewat mimpi pada malam kedelapan bulan Dzulhijah untuk menyembelih putranya Ismail a.s. Sebagai seorang yang taat kepada Allah Swt., Nabi Ibrahim menyampaikan hal itu kepada putranya. Sungguh luar biasa jawaban Ismail, ternyata dia melaksanakan perintah Allah, yakni melaksanakan mimpinya. Dalam Alquran persitiwa ini dikisahkan dalam surah Ash-Shafaat :102 -107. Nanti kawan-kawan bisa baca sendiri Oke ??? : *

4. Waktu Penyembelihan Binatang Kurban
Waktunya adalah pada tanggal 10 Dzulhijah (Hari raya idul adha) atau hari-hari Tasyrik (11,12,13 Dzulhijah). Penyembelihan di luar waktu itu hanyalah penyembelihan biasa, BUKAN KURBAN. Rasulullah Saw bersabda
"Barangsiapa yang menyembelih kurban sebelum salat idul adha, maka sesungguhnya ia menyembelih untuk dirinya sendiri dan barang siapa yang menyembelih kurban sesudah shalat idul adha dan dua khotbah, maka sesungguhnya ia telah menyempurnakan ibadahnya dan telah menjalankan aturan islam." (HR. Bukhari)
Dalam hadits lain Rasulullah Saw. bersabda :
"Semua hari tasyrik (tanggal 11, 12, 13 Dzulhijah) adalah (waktu) menyembelih kurban." (HR. Ahmad)
Yang dimaksud sesudah salat bukan berarti yang berkurban harus salat, melainkan waktu salat. Mengapa demikian? Karena melaksanakan salat iduladha bukan syarat penyembelihan kurban.

5. Syarat Binatang untuk Kurban
Jenis binatang kurban yang sah untuk kurban adalah jenis binatang ternak yang dipelihara atau diternakan untuk dimakan dagingnya dan dapat diperas susunya. Binatang ada empat jenis, yaitu kambing, domba, sapi, kerbau, dan unta. Binatang ternak yang dipergunakan untuk melaksanakan syarat kurban itu harus memenuhi dua syarat, yaitu cukup umur  dan tidak cacat.

 a. Cukup Umur Binatang Kurban
1.) Domba sekurang-kurangnya 1 tahun atau udah berganti gigi (musinah
2.) Kambing biasa sekurang-kurangnya berumur dua tahun.
3.) Sapi atau kerbau sekurang-kurangnya berumur dua tahun.
4.) Unta sekurang-kurangnya 5 tahun.

*Untuk dalilnya bisa di cari sendiri Oke ... !!

b. Cacat Binatang Kurban
Cacat binatang yang menyebabkan tidak sah dipergunakan untuk berkurban ada empat macam, yaitu sakit mata atau buta, sakit-sakitan atau tidak sehat, pincang kakinya, dan terlalu kurus. Ini diterangkan dalam hadits Rasulullah Saw. Bisa dicari sendiri ya.. karna kalau ditulis takut kepanjangan .. Wkwkwk

Ketentuan tersebut berkaitan dengan kandungan nutrisi dan gizi binatang. Pada tingkatan usia yang telah disebutkan, hewan tersebut kaya gizi. Dengan demikian, hewan kurban akan lebih bergizi, dagingnya tebal, dan cukup layak untuk dikonsumsi banyak orang serta dagingnya tidak membahayakan untuk dikonsumsi.

6. Ketentuan Jumlah Binatang Kurban
Sebagaimana pembayaran dam (denda) dalam ibadah haji, seekor kambing berlaku untuk satu orang, sedangkan sapi atau unta berlaku untuk tujuh orang. Dalam sebuah hadis Rasulullah Saw. Bersabda
"Dari Jabir Berkata : "Kami telah menyembelih kurban bersama-sama Rasulullah Saw. tahun Hudaibiyah, satu ekor unta untuk tujuh orang dan seekor sapi untuk tujuh orang." (HR. Muslim)

7. Cara Membagikan Binatang Kurban
Apabila kurban yang dilakukan adalah kurban nazar (yang hukumnya wajib) maka seluruh daging kurban wajib dibagikan kepada fakir miskin dan yang berkurban tidak boleh makan daging itu. Jika kurban adalah kurban sunah (kurban biasa) maka dagingnya dabat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:
a. 1/3 dari daging untuk yang berkurban dan keluarganya
b. 1/3 dari daging untuk disedekahkan kepada fakir miskin.
c. 1/3 dari daging diberikan kepada kerabat atau orang yang membutuhkan.

Ini tertera di dalam Al-Quran Surah Al-Hajj ayat 28.

OKE THANKS UDAH BACA ...

Zaman Oh... Zaman

Assalamualaikum,

Pernah dengar gak kalian tarian GANGNAM STYLE yang sekarang lagi populer di masyarakat dunia. Pasti anak-anak sekarang selalu up to date soal masalah seperti itu. Tapi apakah kalian juga up to date untuk menimba ilmu agama yang prioritasnya lebih penting dibandingkan dengan dunia ???

"Trus gue harus koprol sambil bialng WOW gitu !!" Bahasa gaul remaja sekarang yang sering diucapkan. Tanpa di sadari ternyata kita cuma jadi pengikut. Menjangkitnya bahasa pergaulan di masyarakat membuat para remaja seakan hilang jati dirinya tentang agama. Munculnya banyak plagiator-plagiator muda yang mengucapkannya. WAW ?? Bukankah itu suatu yang aneh ?. Tapi apakah terbersit dihati anda untuk menjadi plagiator dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Salam ?

Kawanku ...
Cobalah kita merenung sejenak, memikirkan berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk dunia dibandingkan akhirat. Dimulai dari Tidur >> Sekolah >> Pulang >> Tidur >> Sekolah >> Pulang >> Tidur.

MANA WAKTU UNTUK BELAJAR AGAMANYA ???

Itulah kawan... Kita terlahir di zaman yang semakin kompleks. Zaman yang sudah tua. Zaman yang sangat jauh dari masa Rasulullah dahulu. Tapi, dari situ kita harus selalu berusaha dan terus berusaha, agar agama ini tidak pudar, agar agama ini tidak runtuh di makan zaman. Agama Islam adalah agama Rahmatan lil alamin. Agama Universal.

Kita dituntut untuk menjaga agama ini sesuai dengan yang berada di AL- Quran dan apa-apa yang di ajarkan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Salam.


Bagaikan sebuah sapu tangan putih bersih yang ditinggalkan pemiliknya. Ada seseorang yang melihat, lalu dipotong sebagian dan diwarnai. Lalu datang lagi sesorang dan melihatnya, dipotong lagi sebagian dan diwarnai. Sehingga warna asli dari warna sapu tangan itu hilang.

Muflis #CHAPTER 3

Imam An-Nawawi Rahimhullah berkata, "Ketahuilah, hendaklah setiap orang yang telah mencapai umur baligh menjaga lidahnya dari semua ucapan, kecuali ucapan yang bermanfaat, dan jika perkataannya maupun diamnya sama kadarnya maka sebaiknya ia diam tidak berbicara, karena terkadang ucapan mubah menyeret seseorang untuk berkata salah hingga mencapai derajat haram maupun makruh, dan hal itu sering terjadi, tentunya keselamatan anda dengan menjaga lidah di atas segalanya (Riyadh Ash- Shalihin)

Saudaraku ...
Janganlah engkau membinasakan kebaikan yang telah engkau kumpulkan melalui ibadah dan amal saleh dengan berbuat ghibah, sehingga anda bagaikan tukang air yang bodoh, yang menampung air dengan panci yang bocor.

Saudaraku ...
Maukah kebaikan yang telah kamu lakukan hilang begitu saja? Jangan berbuat bodoh, jadilah orang cerdik lagi pandai, ingatlah panasnya neraka sebelum engkau menyulut lidahmu dengan ghibah, bayangkan siksa pedih bagi orang-orang yang melakukan ghibah, jagalah lidahmu yang berada di antara kumis dan janggutmu karena mengharapkan ridha Allah Ta'alla Yang Maha Perkasa, Maha Penyayang, Maha Pengampun lagi Maha Pemberi, sehingga dengan izin-Nya engkau akan mendapatkan surga.

Kita tutup pembicaraan ini denga suatu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda,
"Tahukah kalian siapakah orang pailit itu?" Mereka menjawab, "Orang pailit ialah orang yang tidak mempunyai uang sepeserpun dan tidak mempunyai harta benda." Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Sesungguhnya orang pailit di antara umatku ialah orang yang pada hari kiamat datang dengan shalatnya, puasanya, zakatnya, akan tetapi ia telah mencaci si A, menuduh si B, memakan harta si C, menumpahkan darah si D, memukul si E, maka si A akan diberi sebagian dari kebaikannya, si B akan diberi sebagian dari kebaikannya dan begitu seterusnya, jika kebaikannya telah habis padahal samua kesalahannya belum terbayar, maka kesalahan orang-orang yang ia zhalimi akan dibebankan kepadanya, yang pada akhirnya ia dilemparkan ke dalam neraka." (HR. Muslim (4/1585) (2581))